Antara Ruang Privat dan Ruang Publik

Perdebatan seputar batasan antara ruang publik dan ruang privat, tidak akan pernah berhenti. Setidaknya sebelum kita mampu memaknai dan memahami hakikat sebenarnya antara ruang publik dan ruang privat. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, pada akhirnya saya dapat mengatakan bahwa ruang privat adalah ruang pribadi dimana individu berhak bebas melakukan apa yang menjadi hak asasinya secara pribadi terlepas dari intervensi atau pengaruh pihak-pihak lain diluar individu tersebut. Dalam ruang privat inilah persoalan rasa dan etika menjadi dua hal yang cukup krusial.

Sedangkan ruang publik adalah ruang bersama dimana didalamnya terdapat shared value atau acuan nilai bersama yang disepakati oleh masyarakat tersebut. Proses pembentukan atau penentuan apa yang menjadi shared value melalui sebuah proses yang dinamis, dimana shared value tidak stagnan, tetapi mengalami bargaining sepanjang waktu sehingga kerap berubah menyesuaikan latar tempat dan waktu dimana masyarakat tersebut hidup. Pada ruang publik ini ketika batasan berdasarkan shared value telah ditetapkan ketika itulah mucul “aturan-aturan” yang secara jelas mengikat masyarakat tersebut. Yang tentu saja aturan-aturan tersebut bekerja di areanya tanpa dapat masuk ke ruang privat.

Meskipun demikian tidak lantas ruang privat seseorang lebih kuat posisinya dibandingkan ruang publik. Ketika terjadi gesekan atau konflik memang pertama kali penilaian akan berangkat dari ruang privat seseorang, apakah secara asasi hal tersebut menjadi hak pribadi seseorang yang dapat dibenarkan. Disinilah rasa dan etika bergerak. Akan tetapi jika hal tersebut tidak dapat diselesaikan dengan rasa dan etika, atau ketika hal tersebut menyinggung kepentingan publik, maka shared value di ruang publik dapat masuk dan menekan untuk menyelesaikan gesekan atau konflik yang terjadi, mengingat batasan-batasan diruang publik yang lebih konkret.

Meskipun demikian pada prakteknya dikehidupan kita batasan antara ruang privat dan ruang publik semakin rancu. Dan saya dapat mengatakan bahwa media massa saat ini justru terkesan memanfaatkan kerancuan itu demi profit. Dapat kita lihat saat ini bahwa tayangan infotainment menjadi salah satu tayangan dengan jumlah pemirsa yang begitu banyak. Padahal apabila kita berpikir secara lebih dewasa infotaiment saat ini jelas mengcover ruang privat seseorang yang kita anggap “public figure” dan menyajikannya ke ruang publik, ke ruangan kita bersama.

Saya lihat media kini juga terlalu asyik dengan hal tersebut, dan kita tampaknya juga semakin menikmati sajian itu. Kita menjadi merasa perlu mengetahui alasan Aa’ Gym berpoligami, kita merasa perlu mengetahui alasan Syaiful Jamil menceraikan istrinya. Kita merasa perlu mengetahui sesuatu yang sebenarnya useless. Apa manfaat kita mengetahui alasan Aa’ Gym berpoligami dan alasan Syaiful Jamil menceraikan istrinya? Jika kita memandang ruang privat para “public figure” telah menjadi korban, coba lihat, bukankah hak kita untuk mendapatkan informasi (bukan tentang kawin cerai) telah ditelantarkan oleh media jika kenyataannya infotaiment lebih gencar bergerak dibandingkan LIPUTAN 6.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s